RSS

Cantabile


Pagi ini ditemani Four Seasons dari Vivaldi, saya mengenang perjalanan Cantabile. Cantabile secara kata artinya sih 'smooth and flowing', mengalun begitulah yaaa. Mungkin atas dasar itulah Tomoko Ninomiya memberi judulnya Nodame Cantabile. Tentang alunan nadanya si Nodame, tokoh utama komik ini yang ceroboh, jorok, ga tau malu,jenius bermusik tapi tidak suka dipaksa serius bermain piano karena cita-citanya menjadi guru TK :). Sejak awal baca komik ini sudah suka pake banget. Walaupun koleksi saya masih ada yang bolong karena zaman kuliah ga punya duit buat beli, cuma bisa nyewa, pas beli banyak nomer udah sold out en kosong stocknya ..hiks.

source:www.goodreads.com

Dari boomingnya komik ini, akhirnya dibikin animasinya. Untuk kualitas gambarnya keren lah animasinya, walau cuma liat sekilas soalnya saya ga terlalu suka nonton animasi. 


Nodame & Chiaki animation series

Akhirnya kalau ga salah tahun 2006-2008 dibikinlah dorama untuk Nodame Cantabile...kyaaaa...sambut gembira, penuh perjuangan banget bisa dapetin dvd nya berhubung masih miskin, ga bisa download juga. Dorama nya menurut saya memuaskan, penokohannya dapet banget, dari Chiaki yang bikin saya jatuh cinta abis, Nodame yang suka teriak Gyaboo dan mukyaa, ampe Masumi chan aja cocok, mungkin prof Stressman aja yang saya ga sreg. 

Versi Dorama
source:www.nodamecantabile.wikia.com

Dorama Jepang ini dibuat 2 season, puassss banget ditambah pula ada versi layar lebarnya. Jadi serasa semua part di komik di wujudkan di dorama dan film, bahkan sampe syuting ke Eropa seperti cerita di komiknya. 

Dan sekarang, muncul drama versi Korea nya yang dinamakan Naeil's Cantabile. Naeil's kayaknya versi korea nama Nodame yaa.  Awal tau gegara baca Pathnya Ticong, liat dia lagi nonton ni drama, usut punya usut ternyata versi koreanya Nodame, kyaaaa. Sayangnya kecewa pas browsing liat pemeran Chiaki versi Koreanya (namanya jadi Yoo Jin). Soalnya si Joo Won pemeran Yoo Jin ini merupakan pemeran antagonis di drakor Kim Tak Goo. Pyuuhh, di drama itu saya benci banget ama dia, jahat ihh. Jadi sampe kebawa-bawa deh ke film ini muka jahatnya..hahaa. Tambahan lagi dia ga se cool Chiaki, saingannya berattt. Yang jadi Nodame versi Korea ini lumayan cocok menurut saya, OK aktingnya, apalagi kalau liat aktingnya Shim Eun Kyung di Miss Granny, kocak abis. Lama-lama liat Yoo JIn nyaa, jadi ganteng en ok juga, walalupun tetap sebel, cuma tetap ga cocok menurut saya (subjektif sekaliii). Malah saya cinta banget ama Lee Yoon Hoo di series ini.

Anyway, setelah nonton sampe tamat, saya kasi nilai 7,5 deh. Ngerasa masih kurang en kurang pol karena cuma 16 episode jadi belum bisa mengcover semua cerita komiknya. Berharap ada season 2 nya. Yang paling keren tentu saja musik di series ini, Vivaldi "Four Seasons" yang violin (my favorit all the time). 

Korean Casts
www.asiafaninfo.net
Naeil's Cantabile
www.internationalfangirl.blogspot.com

Penang Trip Day - 2


Day 1 dari perjalanan ini penang-trip-day-1 saya tulis bulan April, and now it's September..hoho..I'm so sorry about being so lazy and unorganized nowadays. 

Hari kedua ini saya berencana untuk menggunakan CAT, bus gratis yang disediakan pemerintah Penang untuk turis yang melewati tempat-tempat pariwisata. Ada 18 pemberhentian untuk bus CAT ini dan setiap halte tsb melingkupi beberapa object wisata. Untuk rute lengkap bisa dilihat di www.penang-traveltips.com. Melihat dari peta, saya confirm halte terletak di dekat Mall Perangin yang dekat hotel saya, tetapi ketika sesampainya disana saya muter-muter bingung ga jelas, karena tidak menemukan simbol tsb. Nanya ke beberapa orang petunjuk mereka berbeda-beda, ketika melihat ke seorang bule ganteng yang kayaknya solo traveller juga (ga jelas saya nanya karena dia ganteng atau akrena dia solo traveller juga :P), dia ternyata baru tau ada bus seperti itu. Ya si mas ganteng, pinteran saya dong browsingnya kalau begitu,hehehe. And finally, u know, haltenya itu ternyata di dekat tempat saya datangi pada awalnya. Hahaha. Sungguh menyebalkan membuang waktu mencari dan kemudian menunggu bus tsb datang hampir 1,5 jam :(. Ughh, I hate wasting my time.

Kapiten Keling Mosque 

Saya turun di halte 15 (Kampung Kolam), karena saya ingin melihat Kapiten Keling Mosque terlebih dahulu dan saya memutuskan untuk memutar wilayah situ dengan berjalan kaki. 

Masjid Kapitan Keling 

Ketika saya sampai di masjid ini, masjd ini masih sepi sekali, bahkan pagarnya belum dibuka akrena masih pagi. Tetapi ketika penjaganya melihat saya berjilbab dan saya mengucapkan assalamualaikum, saya langsung dibukakan pagar :) Alhamdulillah. Disini saya kembali bersyukur dengan adanya tongsis, hehehe. Berhubung tidak ada yang bisa disuruh (si penjaga sibuk bersih2, saya selfie2 sendiri lah jadinya).

jalan di sekitar masjid
Dari masjid Kapitan ini, saya berjalan kaki di sekitarnya dan melihat banyak penjual souvenir dan penyewaan sepeda. Ketika saya mengecek brosur dan peta, ternyata jalan-jalan disini berdekatan dan lebih gampang tampaknya ditempuh dengan sepeda dibanding bus, kalau berjalan kaki nampaknya di hari yang sangat panas saya akan banyak membuang waktu. Sedangkan kalau menunggu bus CAT itu lagi, I'm not so sure. 

Yup, diputuskan menyewa sepeda is the best option. Saya memilih sepeda mini dengan keranjang di depan, awww so cute dengan harga RM 10 dan ketika saya ceritakan ke orang hotel, ternyata saya mendapatkan ahrga termurah (dia ga tau aja keganasan saya dalam menawar harga,haha).

Betapa mereka menghargai pengendara sepeda, no worry at all

Dimulailah petualangan dengan sepeda, saya mulai memutari daerah GeorgeTown. Daerah ini memang merupakan tempat yang cocok dihabiskan dengan bersepeda. Pemerintahnya sangat kreatif dengan menyediakan peta yang berupa game dimana kita ditantang untuk menemukan creative art yang di buat di jalan-jalan tertentu. Masing-masing creative-art itu di beri nomor di peta disertai petunjuk jalannya, sehingga ketika kita sudah melihat semua creative art itu, itu berarti kita sudah melewati seluruh jalan di George Town. Selain membuat jalan dan tembok tua mereka lebih indah, kita yang jalan-jalan juga jadi asyik kan ;) . Di tepi-tepi jalan tersebut juga banyak menjual souvenir dengan harga murah. Yang menarik ternyata perancang sepatu terkenal Jimmi Cho berasal dari Penang, di tembok dekat rumahnya dibuatkan creative-art yang berkaitan dengan dia.

Salah satu creative-art di lorong George Town
Creative-art di lorong George Town

Ni juga nii

Ben's Vintage Toy Museum

Salah satu panduan tujuan saya adalah Trip Advisor, jadi ketika saya bersepeda memutari lorong di George Town saya menemukan plang nama Ben's Vintage Toy Museum, saya langsung teringat atraksi utama di Trip Advisor yang sudah saya baca. Singgah deh kesitu..hehehe.

Museum ini ternyata punya pribadi, jadi rumahnya ini dijadikan museum karena dia suka mengoleksi mainan-mainan lama yang masih dirawat dengan baik oleh pemiliknya.




Chocolate & Coffee Museum

Setelah dari Ben's Museum, saya langsung fokus ke tempat-tempat yang memang sudah saya targetkan di itenary saya, salah satu target utama yaitu Cheong Fatt Tze Mansion. Tetapi sesampainya disana loket sudah ditutup untuk jam tsb, saya harus datang lagi pukul 14:00 untuk sesi berikutnya :(
Untunglah ketika saya tanya kepada petugas loket, ada tempat tujuan saya yang terletak dekat disitu, jadi mari kita ke Chocolate & Coffee Museum :)


Disini diceritakan sejarah dan perkembangan kopi dan coklat, dan tentu saja sekalian mereka berjualan. Jualannya itu yang bikin galau. Ada bermacam-macam jenis kopi dan cokelat yang rasanya saya ingin beli semuanya, tapi uangnya yang ga kuat :D. Jadi yang penting sya cobain testernya, semuanya,hahaha. Harga coklat RM 60, kopi RM 26.

Ternyata Indonesia adalah negara ke 3 terbesar di dunia untuk penghasil coklat
Tapi sama sekali tidak ada kreativitas atau ide untuk membuat museum seperti ini yang bisa mendatangkan banyak keuntungan dan ilmu, bahkan menjadi tujuan utama turis dunia. 
Coffee Process, dilukis di dinding museum

Nasi Kandar Line Clear

Keluar dari museum tepat di jam makan siang, saya membuka Google Maps untuk mencari tempat makan tujuan saya yaitu Nasi Kandar Line Clear. Ternyata tempatnya biasa saja, terletak di sebuah gang kecil di samping sebuah rumah makan nasi kandar juga. Jadi jangan sampai tertipu, akrena saya nyaris masuk ke rumah makan tsb. Untung saja, saya bertanya lebih dulu, ditunjukkanlah jalan disampingnya. 




Untuk masalah rasanya, kalau dari selera saya sih enak..hehe. Ada rasa seperti masakan Padang sedikit, Melayu sedikit, yang pasti ayamnya enak :). Makan dengan lauk ayam+ teh tarik  RM 8,6

Setelah makan siang, saya yang sudah lumayan hafal jalan (cieee gayaa), memutuskan balik hotel dulu buat shalat dan istirahat. Sebelumnya memenuhi target dulu ke mall buat ngopi dan beli tumbler Starbuck karena ada edisi khusus RM 33 (lebih murah dari di Indonesia :()

Cheong Fatt Tze Mansion

Mengayuh sepeda di terik matahari, ohhh la la, tapi demi tercapainya target itenary, maju terus. \^0^/
Sesampainya di Cheong Fatt Tze Mansion, loket sudah dibuka dan ternayat harga tiket RM 12 sudah termasuk tour guide,seorang ibu yang sudah berumur tapi sangat aktif dan humoris. 

Jadi ceritanya ni mansion adalah rumah pribadinya keluarga Cheong Fatt Tze, salah satu orang terkaya dan berpengaruh di Penang. Dia berasal dari Cina dan memulai karirnya dari menjadi kuli, sampai akhirnya berhasil dan menikahi seorang putri kaya juga. Sayangnya ketika beliau meninggal, penerusnya tidak berhasil mengelola warisan dengan baik dan akhirnya menjual semua harta. Mansion ini pun menjadi terbengkalai dan rusak. Karena mansion ini secara arsitektur unik dan langka, dan mempunyai nilai histroris,maka dibeli oleh kelompok pengusaha pecinta budaya dan akhirnya di renovasi yang memerlukan waktu lama karena dilakukan secara manual dan teliti. 




Di saat tur, saya menanyakan apakah Cheong Fatt Tze mempunyai hubungan dengan Tjong A Fi di Medan yang rumahnya juga menjadi museum sekarang, fakta mengejutkan ternyata mereka masih saudara sepupu. Wow,saya senang sudah mengunjungi keduanya. Mengenai Tjong A Fi house, bisa dibaca di sini.

Camera Museum
Tujuan saya berikutnya adalah menuju Port Cornwallis, tetapi takdir berkata lain, ketika saya memutari lorong, saya menemukan Camera Museum. Seperti sebelumnya saya juga sudah membca review museum ini dari Trip Advisor, apa salahnya singgah kan ;). Tiket masuk RM 20 sudah termasuk stiker dan bonus voucher diskon buat belanja di gallery-nya, lumayaannn.


Welcome Sign Camera Museum
Museum ini tidak luas, tapi unik dan menarik. Mereka menatanya dengan sangat kreatif dan lengkap, hampir semua model kamera ada disini. Bahkan ada ruangan dimana ketika kita di dalamnya, kita seolah-olah berada dalam kamera dan kita bisa tau proses yang terjadi di dalam kamera. Selain itu juga terdapat ruangan Spy, dimana kita bisa melihat semua peralatan yang digunakan dalam dunia detektif seperti kamera di pulpen, lighter dsb.

Macam-macam jenis kamera
Spy Room

So many creative things around



Fort Cornwallis 
Tujuan berikutnya yaitu Fort Cornwallis, tempat ini wajib didatangi karena dari sini kita bisa melihat pemandangan kota Penang di tepi pantai. Merupakan benteng yang bersejarah dan bagus didatangi di saat senja. Tiket masuk RM 2 (murah yaa....)

Fort Cornwallis

O I love these view
With Sir Francis Light, pendiri Fort Cornwallis dan yang mengembangkan Penang
di masa penjajahan Inggris
Sengaja menghabiskan sore disini, ketika saya keluar dari benteng ini, matahari sudah mulai terbenam, bersepeda dengan suasana seperti ini malah tambah bikin ga mau pulang. Pengennya ya muter-muter aja terus, benar-benar ga terasa capeknya. Sebetulnya sepanjang jalan yang kita lewati banyak tempat-tempat menarik untuk dilihat. Berhubung waktu saya sempit, saya hanya bisa singgah sebentar untuk foto objek-objek tsb.

Bangunan-bangunan menarik yang saya lewati di George Town
Senja di GeorgeTown

Jalan pulang ke tempat penyewaan sepeda


Finally, time to back to hotel, Nite is comin

So....it;s time to say good bye to Penang. If I have any other chance, I would love to come back here again. There are some places I have not seen yet and they are calling. 

Qq Pamiiiiiitt

“Never did the world make a queen of a girl who hides in houses and dreams without traveling.” 
― Roman PayneThe Wanderess

18 Stucked


I think you should be a child for as long as you can. I have been succesful for 74 years being able to do that.  - Bob Newhart-

If Bob Newhart said in his quote about being child. I my self have been succesful for 29 years.
I wish time is stop and my childhood is eternal. In missing u Dad...think about this :')

Rumah Pelangi


Setahun Bersamamu
Ga terasa, April tahun ini sudah setahun tinggal di Jakarta, tepatnya 8 April 2013 yang lalu kita pindah kesini. Seperti di posting sebelumnya, mimpi pun tidak untuk tinggal di kota ini. Tetapi seiring sudah disini, punya rumah disini, indeed my life is here. 

Hal yang paling membahagiakan tentu saja sudah punya rumah sendiri. Kayaknya salah satu pencapaian berumah tangga mungkin itu ya (menurut saya sih), bisa punya rumah pertama yang dibeli sendiri tanpa bantuan orang lain (tetapi dibantu bank,heuheuuu >,<).  Rumahnya sendiri sebetulnya sudah dari tahun 2012, kasian dia dikosongin dulu karena yang punya masih di Sumatra. Beli rumah dulu sempat galau, bukan galau mau beli apa engga, tapi galau belinya dimana. Secara si mas di KalTim saya di Sumsel, Ortu saya di KalBar, ortu doi di Solo. Tentu saja hasilnya terpaksa di tengah-tengah alias Jakarta, biar adil nooh, mamanya dia en maknya eike ga ribut,hahah. Gegara bingung itu juga akhirnya belinya molor, dari tahun 2011 pengen punya rumah, tahun 2012 baru dapet. 

Proses pencariannya juga galau, ada yang kompleknya enak, tapi mahalllllll, ada juga yang jauuuuuhhh banget. Selama berapa kali ke Jkt kita sampe pernah nginap di hotel Bintaro,penginapan aneh di Jagakarsa, sewa apartemen di Kebagusan, trus nginap di rumah Mb Ida, dan tentu saja yang paling banyak bantu the last but not least Neng Yando :'). Si Yando ini selalu dengan lapang dada membiarkan saya menginap di rumahnya di Jagakarsa, nemenin saya naik motor muter-muter liat rumah, sampe ngasi nasehat-nasehat yang berguna biar saya ga keblusuk beli rumah di Ujung Kulon. Mungkin karena keseringan main ke Jagakarsa juga kali ya yang bikin saya jadi beli di situ juga.

Setelah begitu banyak rumah yang dilihat, sampe saya bingung tujuh keliling, akhirnya memilih rumah dengan cara  layaknya di How I Met Your Mother Series, alam yang menjawabnya. Ceritanya setiap kita janjian dengan makelar, kita ditunjukan rumah yang berbeda-beda, tapi ada 1 rumah yang walaupun makelarnya beda-beda, tapi rumahnya sama. Ya rumah kita ini :). Kita dibawa 3x ke rumah ini oleh 3 makelar yang berbeda. So I guess this house is made for us. Alhamdulillah setahun tinggal disini betah banget, mau ke stasiun kereta dekat (ga sampe 10 menit naik motor), tetangganya baik (sering dapet delivery service :P) dan saya merasa aman walaupun sering sendiri karena komplek tertutup dan satpamnya care karena cuma 7 rumah yang diperhatiin,hehehe. Karena cuma 7 rumah ini juga lah, se komplek tetangga kenal semua, tiap ada yang ultah saling ngucapin, punya group di whatsapp,dan jadi merasa punya keluarga disini ;').

Saya namakan Rumah Pelangi, ya karena nama clusternya Grand Mutiara Pelangi. Dan dalam kehidupan saya dan mas di rumah ini pastinya akan banyak warna warna kehidupan, entah warna kebahaagian, kesedihan, berantem, seneng-seneng, yang bakalan jadi Pelangi dalam hidup kami. Semoga berkah. Amiinn.

Penang Trip - Day 1


Ada long weekend lagiii, mari cari tiket murah!!!! Itulah kerjaan kalau liat kalender. Tahun baru cina (imlek) jatuh hari Jumat dan itu anugerah buat kita. Tapi liburan kali ini sebetulnya ga jelas, sudah tau liburan tapi ga da orang yang bisa diajakin buat jalan L. Hal yang saya paling sebelin dengan sistem kerja suami saya adalah INI. Saya ga bisa ajak dia travelling di long wiken2 seperti itu karena dia masih ON di site sana. Berapa banyak long wiken tersia-siaaa. Untungnya dia bukan tipe suami posesif yang ga bolehin saya macam2 atau batas2in ga jelas. That’s why I marry u beib :P.
Pembukaan cerita trip ini agak panjang yaaaa.

So back to the plan, dari yang awalnya pengen ke Belitung, Derawan, terus ganti ke Pekanbaru aja karena saya jatah war room minggu ini ke Lirik yang notabene dekat Pekanbaru (lumayan kan hemat tiket :P). But as we know, human plan, God decides. Ternyata war room bukan di Lirik, tapi pindah di Medan. Jiaaa, langsung belingsatan langsung hunting tiket kemana yang dekat-dekat Medan. Agak bingung karena seputaran Medan sudah saya datangin semua, yang belum cuma air terjun SiPiso Piso dan Simalem. Pengen ke Nias atau Mentawai tapi kayaknya ga asyik sendirian kalau kesono. Suddenly ingat Penang (orang Msia bacanya Pineng), cek harga tiket murah, trs browsing hotel murah, browsing tujuan wisatanya oke. Akhirnya confirm mau ke Penang, tapi hari itu saya pending beli karena ga tau jadwal war room dan masih pengen nyari temen jalan kesono.

Nampaknya emang sudah suratan takdir, berapa banyak orang yang sy contact, semuanya ga matching dg plan kali ini,..hiks. Sy galau, buka website harga tiket udah naik (setengah BT juga), apalagi Garuda yang Cuma 400rb aja uda jadi 700an. Kekiiiiii. Akhirnya beli Air Asia 295rb penerbangan paling pagi dari Medan – Penang (nekat walaupun belum tau jadwal War Room). Hotel masih sy pending dengan setengah deg2an dengan meyakinkan diri, kalau memang jodoh ke Penang besok last room yang tertera di Agoda ini adalah buat saya. Beberapa kali buat meyakinkan diri whatsapp sama Nurul yang backpacker-an sendiri ke Jepang brp bulan yang lalu. Dalam hati saya, ke Jepang aja Nurul bisaaa, masa cuma ke Penang yang di Malaysia aja saya ga survive :D *padahal deg2an*.

Malamnya saya tidur ga nyenyak, benar-benar alam bawah sadar saya memikirkan hal tsb. Padahal mas sudah ngasi support, tapi sayanya yang goyang, dalam tidur saya memikirkan, kok saya bego ya langsung beli-beli aja tiket ga mikir panjang. Mbok ya bersabar nunggu ada temen, Penang ga kemana-mana. Akhirnya telpon si Mas lagi, bilang ragu en bingung, melihat saya seperti itu si Mas akhirnya bilang, ya sudah kalau ragu batal saja. Refund tiketnya. (Emang bisa ya tiket semurah itu direfund?:D). Ok, saya bertekad sampai di Bandara Kuala Namu harus langsung ke Counter Air Asia buat refund. Thats my plan.

God decided differently. Saya lurus-lurus aja keluar bandara langsung cus ke Rantau-Aceh, ga da kefikiran refund. Malah meyakinkan diri kalau kamar hotel terakhir itu masih ada saya akan berangkat. Besoknya saya malah browsing beli tiket Penang-Medan dan booked last room yang ternyata masih ada. *amaziinggg*. Dan tentu saja harganya sudah naik baik kamarnya maupun pesawatnya. SIGH.

Ok ...let gooo. Perjalanan KNO-PEN hanya sekitar 45 menit dan hampir seluruh perjalanan saya tidur :D. Sesampainya di Penang Airport saya agak bingung mencari bus shuttle untuk ke down town. Untunglah saya melihat counter Malaysia Tourism dan singgah disana lumayan lama buat tanya-tanya (karena antri) dan mengambil semua peta atau brosur yang saya anggap berguna. Sebelum cabut, sy memutuskan untuk membeli Simcard lokal supaya bisa tetap internetan. One u must remember, when u decided to have solo trip, prepare with hard copy/notes of ur research and ofcourse Google. Provider yang saya pilih adalah DIGI,karena banyak yang bilang paling friendly ama kita orang Indo (hasil browsing :D). Harga digi perdana card RM 16, sudah include 2 hari internetan gratis @150MB dan pulsa RM 6. Lumayaaann (saya malah bisa telpon mas di Indo dengan pulsa bawaan kartu ini).

Halte bus atau lebih dikenal dengan nama Rapid Penang ini ternyata memang harus menyebrang sedikit dari luar bandara. Selain naik bus, kita juga bisa naik taksi tentunya. Tapi saya pilih yang murah lah ya, taksi RM 50 sedangkan busnya RM 2,7. Kekurangannya tentu saja kita harus menunggu sampai bus tujuan datang, lumayan lama karena ketika saya sampai, si bus barusan berangkat, hampir 1 jam baru tiba bus 401E (Balik Pulau – Jetty). Itu rute yang harus kita pilih kalau tujuannya ke George Town. Sebagai bus angkutan dari bandara, tentu saja DAMRI jauh lebih baik. Sepanjang perjalanan 1 jam itu saya Cuma bisa berdiri nyender tiang karena penuh minta ampun.

Saya menginap di Georgetown, karena dari hasil searching, this is the best place to stay in Penang. Saya menginap di Apollo Inn, dari awal sudah email2an sama stafnya yang super nice, sampe ngasi peta jelas banget menuju hotel. Kalau menginap di George Town, turun di Terminal KOMTAR (Kompleks Tun Abdul Razak),dari sini saya cuma jalan kaki 10 menit menuju hotel. FYI, kamar yang tersisa yang saya booked adalah mix dorm (hehe,jangan kaget), mix dorm nya disini beda dengan hostel biasa karena kasurnya empukk banget kayak hotel bintang 4 dan setiap tempat tidur ada pemisahnya. Jadi privacy masih terjagalah.  Worth it pokoknyaa ama harganya. Titip backpack, saya langsung cabut menjalankan misi. :D

1      Penang Hill
Tujuan pertama saya adalah Penang Hill a.k.a Bukit Bendera, sy jadikan itenary number 1 karena rasanya ga sah ke Penang kalau ga kesini, tambahan pula tempatnya paling ujung jadi kalau mau kesana harus prepare waktu yang cukup.

Menuju ke Penang Hill, tentu saja ke Terminal Komtar dulu, naik rapid bus jurusan 204, biaya RM 3.4. Berhubung hari itu adalah Hari Raya Imlek, bus penuuuh dan lagi-lagi saya berdiri. Hiksss. Bayangpuunnn, 1 jam perjalanan berdiriiiii (baca nyender). Sampai disana hari sudah siang, langsung buru-buru antri tiket karena orangnya bejibun. Tiket masuk RM 30 (quite expensive heh), padahal untuk warga lokal cuma RM 9 (sungguh tak adil!!!).

Masuk ke dalam kita langsung disambut dengan kereta api dengan dinding bening, dan sungguh menakjubkan, ni kereta bener-bener menanjak mungkin lebih kurang 45 derajat ke atas. Wow..takjub plus rada ngeri, hehe. Indonesia kapan ya bikin kayak gini, jadi kalau ke atas bukit ga capek naik ribuan tangga :D.

sumber : disini
Sy ga sempat foto karena amazed,hehe

Sesampainya di atas pemandangannya super, kita bisa melihat seluruh Penang, bahkan bisa melihat Malaysia daratan (KL dan sekitarnya) serta jembatan keren yang menghubungkan Penang ke Malaysia yang sono.

Pemandangan dari atas Penang Hill
Di atas Bukit Bendera ini terdapat masjid, kuil india, taman, kafe2 dan Owl Museum. Berhubung harga tiket museumnya rada mahal,kita lewatin aja yaa dan hal itu sangat saya syukuri karena ketika makan siang di kafe atas, dapat tau kalau di dalamnya cuma ada patung/boneka dan gambar2 burung hantu saja ga ada burung hantu yang asli.

Di atas PEnang Hill/Bukit Bendera


Menu makan siang : Char Kuey Tiow atau bahasa Indo nya Kwe Tiau (RM 5) + Jus (RM4). Yang pasti jauh lebih enak kwe tiau di Pontianak.

 
Char Kwe Tiaw (rasanya biasa aja)
Selesai makan saya menyempatkan diri shalat dulu di masjid atas bukit, sayang kalau dah jauh-jauh kesini ga shalat. Lalu buru-buru turun ke bawah mengejar kereta api. And fyi, di Penang Hill ini saya jadi bahan tatapan aneh orang-orang, karena ternyata cuma saya yang datang kesini sendiri. :D EGP

2    Toy Museum
Dari Penang Hill, saya naik bus kembali menuju Komtar, karena tidak ada bus langsung ke Tanjung Bahang tempat Toy Museum ini berada. Menunggu bis lumayan lama dan lagi-lagi harus berdiri karena penuh L.  Untuk ke museum ini naik rapid bus 3.4 MYR.  Sebaiknya katakan tujuan Toy Museum ke supirnya karena letak museum ini agak tersembunyi, sehingga kita tidak bisa melihat dari tepi jalan. Setelah stop di simpang empat dekat tulisan Tanjung Bahang, belok kiri dan jalan kaki sebentar sampai menemukan petunjuk Toy Museum.
Ini penanda simpang kalau mau stop di toy museum 
Saya baru tahu kalau museum mainan terbesar di dunia ini ada di Penang, kalau tau seperti itu pasti saya tunggu mas yoyo cuti dulu baru kesini.*merasa bersalah*. Soalnya saya baru tau setelah membaca brosur yang saya ambil di Tourisme Office bandara.

The Largest and Costliest...wow
Di dalam museum ini mainannya lebih ke action figure segala macam tokoh (dari Barbie, Batman, SpiderMan sampe Spongebob ada).Kyaa..wish si Ndut ikutaaan.
Untunglah saya bawa TongSis, hahaha, jadi saya bisa mengabadikan diri saya bersama action2 figure yang gede-gede.
Selfie Time (sengaja di shine fotonya, biar keliatan alaynya :P)

3 
Dari Spidey, SailorMoon, Barbie, semua adaaaa
Sebagian koleksi Toy Museum

         


           Pantai Feringghi
Puas liat-liat maenan, saya mengejar waktu untuk melihat sunset di Pantai Feringghi. Pantai ini dari Tanjung Bahang searah pulang ke kota, sehingga tidak perlu memutar balik nantinya.Di pantai banyak water sport seperti di Bali, karena ga punya teman saya ga main (padahal pengen). Jadinya saya Cuma santai di lazy chair yang disediakan di sepanjang pantai dan juga menyusuri pantai sambil tetap foto narsis dengan tongsis (banyak orang ngeliatin, keabnyakan mereka amazed dengan alat tsb. Apa Cuma ada di Indo?). Saya suka disini, banyak pemandangan indah, padahal saya bawa SLR, cuma modal hp ama camdig doang.
My Fav One



Feringgi BEach
Selain sunset yang paling saya tunggu adalah Night Market disini. Menjelang malam banyak stand-stand yang dibuka sepanjang jalan di Feringgi seperti di Malioboro. Satu demi satu stand saya masuki, tapi ga habis saking panjangnya, kaki dah gempor, langsung muter deh nyari halte bis pulang.

Night Market Feringgi, baru pada buka
Sampe Komtar jam 9 malam, perut keroncongan, saya singgah dulu di KFC. KFC nya di sini ada mashed potatonyaaaaaaa, kyaaaa, enaaakkkk. Sayang sama seperti di Johor ataupun KL, saosnya rasanya aneh, kemanisan gitu deh. 
Paketnya pake mashed potato dan roti, enakkkkk

 Pulang hotel, jam 10 sambil mengendap2 karena takut gangguin orang. Eh si Bule masih belum bobok..Cuma bisa nyengir kuda sambil bilang "Sorry if I'm noisy" :D


Hal yang harus diingat jika menggunakan Rapid Penang :
1. Siapkan ancer-ancer turun, bus di Penang tidak mempunyai kenet yang berteriak-teriak bus mau kemana atau sudah sampe mana.
2. Tidak bisa naik sembarangan, di setiap jarak tertentu ada halte untuk rapid Penang, jadi naiklah dari situ.
3. Turun boleh dimana saja asal pencet tombol stop yang akan membunyikan bel. Tombol ini jumlahnya banyak, hampir di setiap tempat duduk/tiang. So, jangan ketok-ketok plafonnya kayak di Indo lah yaa.                                                                                                            4. Paling aman duduk atau berdiri dekat supir kalau ga tau tempat brenti kamu dimana,ingatin terus supirnya dimana km mau mau turun. Jangan kayak sy, supirnya lupa nurunin di Pantai Feringgi..hahaha. 

Pizza Express


Subuh-subuh sebelum ngantor ga sengaja nonton MnC Food and Travel, topiknya 5 Resto Pasta terbaik di Jakarta. Secara kita hobby nyoba icip2 kuliner, akhirnya saya ama si Mas serius nyimak. Dari 5 tempat pasta itu, akhirnya kita memutuskan nyobain Pizza Express karena posisinya paling gampang didatengin, maklum belum punya mobil en lum tau jalan Jakarta. Hehehe. 

Pizza Express yang kita datangi adlaah Pizza Express yang di Mall Kota Kasablanka. Walaupun nama tempatny Pizza Express, berhubung kita kesono gara-gara review pastanya, qt jadinya ga order pizza, hhihii (next time bebeh). 

Pesanan kita : 
1. Spagetti Pollo E Fungi (IDR 65000) 


And guyssss, sumpeee, this is the best spagetti i ever tasted so far. Enaakk banget. Pake topping ayam dan jamur daN pake bumbu dasar pasto yang mengandung kacang mete. Masih kebayang enaknya. 

And u know, selesai makan disitu, qt langsung buru-buru belanja bahan untuk bikin yg kayak ginu di rumah. Hasilnya not bad, enaakkk biar ga mirip plek, hehehe ( si ndut sih yg bikin, bukan eike :D)

2. Dolcetti Package (IdR 42000)


 Jadi disini ada paket desert yang namanya Dolcetti Package, dimana kalau kita pesen paket ini kita sudah mendapatkan desert and free coffee. Ada 3 pilihan desertnya, tapi kita kemarin pilih desert roti bahan pizza disajikan panas dengan nuttela. Keliatannya simple bangett yaa, tapi enaaakkkkkk *drooling*

3. Drinks 

Untuk kopinya kita pilih ice coffee latte machiato. Rasanya so so laah, masih enakan machiato Starbucks or Tou Le Jours. 

And kalau kita pesen Ice Tea such as Blaccurant Ice Tea or Lemon Ice Tea (IDR 25000), kamu bisa refill sepuasnya ^_^ 



Makan dimana lagi kita yaaaaa :)

Map of My Trips

Copyright 2009 thiernaphilo. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates