RSS

LEt;s Go To Banda


Kalau dengar lagu dari Sabang sampe Merauke, kita pasti tau lah ya kalau Sabang itu kota paling ujung di barat Indonesia dan rasanya belum sah kalau sudah menginjak 0 derajat di garis Khatulistiwa tapi belum menginjak 0 derajatnya di Sabang. *ngeles buat travelling aja sebetulnya*

So,,,berangkatlah kita as always bersama bolangwati Widong minus Listong ke Banda Aceh. Yipiii.
Target berangkat ke serambi Mekkah ini kita setting di Idul Adha biar bisa merasakan rasanya shalat Ied di Masjid Baiturrahman. So far sy selalu berusaha memomenkan suatu perjalanan supaya mudah diingat di waktu kedepannya,heheeh. Biasanya berangkat travelling pas ultah, anniversary, pernah juga pas natal en kali ini Idul Adha :D.

Sesampainya di bandara, saya takjub juga, setelah tsunami ternyata bandaranya jadi bagus banget, foto-foto duluuuuu.

Dari bandara, kita bisa naik taksi ataupun becak motor  ke hotel tujuan. Berhubung so tired dan pengen nyaman dulu, kita naik taksi ke Hotel Lading, tempat menginap kita selama di Banda. Berdasarkan cerita pegawai hotel, hotel ini salah satu hotel yang ga terlalu parah rusaknya pas tsunami, tapi banyak sekali mayat-mayat yang nyangkut disini pada saat itu (mulai agak horror ni jadinya nginep disini :P). Tenang sodara-sodara, selama kita nginap disana aman-aman saja kok ;) yang pasti pilihan nginep disini adalah the right choice menurut saya, harga ok, lokasi ok, kalau mau ke Masjid Baiturrahman cukup jalan kaki saja. Sampe hotel, istirahat bentar, qt langsung cusss menuju tempat-tempat target.

1)Kapal Apung Lampulo


 Kapal ini dijadikan semacam momentum oleh Pemerintah Aceh, untuk mengenang tsunami dimana kapal yang awalnya berada di lautan bisa sampe ke atas atap diperkampungan warga.Ketika kita tiba disini, hari hujan, jadi kita tidak bisa berlama - lama. Untungnya kita diperbolehkan naik ke atas anjungan sehingga bisa melihat kapal secara keseluruhan. Tidak dikenakan tiket masuk di objek ini, cukup ngasi uang perawatan sukarela :)

2) Rumoh Aceh


Lokasi Rumoh Aceh atau Rumah Aceh dalam bahasa Indonesianya ini terletak di samping Museum Aceh. Berhubung hari itu hari libur, kita ga bisa masuk museum maupun masuk Rumoh Acehnya, what a bad luck day :(. Jadilah kita cuma bisa nampang foto-foto di depan kedua tempat itu dalam kondisi gerimis. 

3) Museum Tsunami

Kalau menurut saya, museum ini adalah tempat utama yang tidak boleh dilewatkan kalau kita berkunjung ke Banda Aceh. Tentu saja selain sebagai sarana kita mengenang tragedi Tsunami Aceh, tempat ini juga penuh dengan ilmu pengetahuan lengkap tentang geologi khususnya gempa&tsunami serta alat peraganya, plus desain interiornya...keren abiss. Emang beda banget ya kalau bangunan bikinan orang-orang luar negeri nih, yup, ni museum hasil kerjasama negara-negara yang membantu selama tragedi tsunami. Satu hal yang harus DIINGAT, jangan datang pas hari libur!!!!! Thats what happened to us, museumnya tutup. But, u must remember too, dont stop fight till u die.  Jadi, saya keukeh rayu sekuriti supaya dibolehin masuk, dengan muka memelas alasan datang dari Palembang,hehee. Akhirnya sama si abang ini dibolehin masuk tetapi bagian bawah saja. Start yg bagus fikir saya, yg penting bisa masuk dulu, hehehe *evilgrin*

Finally I'm here
Bagian bawah Museum Tsunami, setiap bola batu yg mengelilingi kolam diukir dengan nama negara2 yang membantu berdirinya museum ini.

Sudah liat foto di atas? Bagian luar dan bawahnya aja keren gitu kan. Sewaktu saya berada di bawah saya melihat ada jembatan memanjang di atas kolam, mulai penasaran dan nanya-nanya. Tiba - tiba, entah itu hadiah dari Tuhan, saya liat pintu masuk terbuka. Langsung saja saya mengajak si widong masuk, dasar Widong anak baik, harus dipaksa-paksa dulu baru mau masuk (sy absolutely evil berarti :P). Lewat pintu itu kita masuk ke sebuah lorong panjang ga da jendela sumpah serem, mulai deg2an mau balik ke pintu lagi, tapi nasi sudah menjadi bubur, sebaiknya kita taburkan ayam saja supaya enak #eh. Akhirnya sampai ke ujung lorong dan sampai ke ruangan yang ada jembatan bagus itu saudara - saudara. Kereeeennn. 

Jembatan bagian atas museum
Kereeen yaaa
Jembatan itulah yang menghantarkan kami kemana-mana, karena sesampainya di jembatan itu kita ketauan petugas, ups. Kita dipanggil trus ditanyain kenapa bisa masuk,hehehe *garuk2 kepala*, bilang pintunya terbuka, jadi ya kita masuk aja *mulai pasang muka memelas lagi*. Si abang petugas ternyata baik (but honestly most Aceh people are very nice), dia tanya asal dan rencana travelling kita. Pintu masuk kebuka tadi ternyata karena ada tamu asing yang datang, jadi ada pengecualian. (O..owww, lagi2 ada privilege khusus buat warga asing ya), but this time kita juga dapat privilige :). Si abang bersedia nganter muter-muter dalam museum,,,hurraaayyy. Makasih banyaaaak buat abang.

4) Kapal Apung PLTD 

Jadi seperti kapal lampulo, kapal ini juga merupakan kapal yang kandas di daratan pada saat tsunami. Bedanya kapal ini jauh lebih bueasaaaarrrrr dibanding kapal Lampulo karena kapal ini punya PLTD. Tetapi memang nampaknya nasib belum berpihak kepada kami (lagiiiiii -___-), lokasi ditutup karena renovasi, jadi kita cuma bisa liat dari luar dan ga bisa masuk. That;s why no picture for this object.

Sebetulnya selain tempat di atas, masih banyak lagi tempat tujuan wisata di Banda seperti makam Iskandar MUda, air terjun, dll, cukup browsing aja :P. Tetapi karena hari sudah menjelang malam, dan kami cuma punya waktu 1 hari saja di Banda untuk mengejar perjalanan ke Pulau Weh - Sabang, kami bergegas pulang dan menyiapkan diri merayakan malam Idul Adha di Masjid Baitur Rahman. And fyi, jalan-jalan ke 4 tempat di atas cuma menghabiskan uang 50rb dengan menaiki bentor atau becak motor. Itupun sudah plus kasihan akrena hari hujan bapaknya tetap mau nganter kemana-mana. Kalau kata temen saya bisa di bawah itu harganya kalau emang kamyu kamyu Raja Tega pas nawar :D
5) Masjid BaiturRahman

Masjid satu ini merupakan masjid monumental dan punya nilai historis tinggi, selain usianya sudah sangat tua, masjid ini sama sekali tidak mengalami kerusakan pada saat tsunami. Malam Idul Adha di Aceh sangat-sangat meriah, hampir sama dengan malam IDul Fitri di tempat saya. Bagaimana pas malam Idul Fitrinya disini ya??? Jadi ada semacam festival keliling kota dengan berbagai macam mobil / kendaraan yang sudah dikreasikan, ada yang bikin ka"bah, ada tabung kaca yang isinya orang murattal, dsb. Intinya sih rata - rata cowok Aceh itu ganteng menurut saya #lho :D. Sayangnya sangat susah mengambil foto disini, objek bergerak plus malam hari kendala paling utama buat amatir seperti saya :(. Over all, biar amatir banyak orang lokal yang mengira kita wartawan gara - gara bawa kamera en backpack, jadi dikasi jalan en tempat mulu di tepi jalan. hehehe.


Pulang dari masjid, kami buru - buru lagi, mengejar waktu ke Ulee Kareeng. Ga sah banget kan kalau sudah ada di Aceh ga minum kopi langsung disana. Jam sudah hampir jam 9, tetapi kita nekad aja naik ojek ke lokasi warung - warung kopi itu. Ternyata...tempatnya dari pusat kota lumayan jauh dan sepi. Dalam hati saya sudah deg-degan abis khawatir diapa-apain atau ditangkap polisi syariah, ga bnaget kan masuk TV gara -gara ditangkap polisi syariah -__-. Tetapi kekhawatiran kita tidak sia-sia, kopinya maknyus banget....slurrppppp, khasnya warung kopi sana, minum kopi sambil makan roti srikaya,nyamm-nyammm. But I tell u, di warung kopi itu cuma kita berdua aja ceweknya, yang lain cowo semua,hahaha. Pantesan aja tuh bapak punya warung ngeliat dari atas ampe bawah heran bin ajaib :P. What a moment :)

Keesokan paginya, di Masjid Baitur Rahman jugalah kami melaksanakan shalat Ied, saya sampe nangis terharu *sstt, diem-diem ya*, entahlah, saya merasa shalat disini sesuatuuuu banget. *halah*. Yang pasti Idul Adha saat itu berarti buat saya walaupun tanpa keluarga ataupun lontong opor. Habis shalat, let;s go cusssss to Sabang!!!!! Pantai menantiiiii.......





Map of My Trips

Copyright 2009 thiernaphilo. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates