RSS

Penang Trip Day - 2


Day 1 dari perjalanan ini penang-trip-day-1 saya tulis bulan April, and now it's September..hoho..I'm so sorry about being so lazy and unorganized nowadays. 

Hari kedua ini saya berencana untuk menggunakan CAT, bus gratis yang disediakan pemerintah Penang untuk turis yang melewati tempat-tempat pariwisata. Ada 18 pemberhentian untuk bus CAT ini dan setiap halte tsb melingkupi beberapa object wisata. Untuk rute lengkap bisa dilihat di www.penang-traveltips.com. Melihat dari peta, saya confirm halte terletak di dekat Mall Perangin yang dekat hotel saya, tetapi ketika sesampainya disana saya muter-muter bingung ga jelas, karena tidak menemukan simbol tsb. Nanya ke beberapa orang petunjuk mereka berbeda-beda, ketika melihat ke seorang bule ganteng yang kayaknya solo traveller juga (ga jelas saya nanya karena dia ganteng atau akrena dia solo traveller juga :P), dia ternyata baru tau ada bus seperti itu. Ya si mas ganteng, pinteran saya dong browsingnya kalau begitu,hehehe. And finally, u know, haltenya itu ternyata di dekat tempat saya datangi pada awalnya. Hahaha. Sungguh menyebalkan membuang waktu mencari dan kemudian menunggu bus tsb datang hampir 1,5 jam :(. Ughh, I hate wasting my time.

Kapiten Keling Mosque 

Saya turun di halte 15 (Kampung Kolam), karena saya ingin melihat Kapiten Keling Mosque terlebih dahulu dan saya memutuskan untuk memutar wilayah situ dengan berjalan kaki. 

Masjid Kapitan Keling 

Ketika saya sampai di masjid ini, masjd ini masih sepi sekali, bahkan pagarnya belum dibuka akrena masih pagi. Tetapi ketika penjaganya melihat saya berjilbab dan saya mengucapkan assalamualaikum, saya langsung dibukakan pagar :) Alhamdulillah. Disini saya kembali bersyukur dengan adanya tongsis, hehehe. Berhubung tidak ada yang bisa disuruh (si penjaga sibuk bersih2, saya selfie2 sendiri lah jadinya).

jalan di sekitar masjid
Dari masjid Kapitan ini, saya berjalan kaki di sekitarnya dan melihat banyak penjual souvenir dan penyewaan sepeda. Ketika saya mengecek brosur dan peta, ternyata jalan-jalan disini berdekatan dan lebih gampang tampaknya ditempuh dengan sepeda dibanding bus, kalau berjalan kaki nampaknya di hari yang sangat panas saya akan banyak membuang waktu. Sedangkan kalau menunggu bus CAT itu lagi, I'm not so sure. 

Yup, diputuskan menyewa sepeda is the best option. Saya memilih sepeda mini dengan keranjang di depan, awww so cute dengan harga RM 10 dan ketika saya ceritakan ke orang hotel, ternyata saya mendapatkan ahrga termurah (dia ga tau aja keganasan saya dalam menawar harga,haha).

Betapa mereka menghargai pengendara sepeda, no worry at all

Dimulailah petualangan dengan sepeda, saya mulai memutari daerah GeorgeTown. Daerah ini memang merupakan tempat yang cocok dihabiskan dengan bersepeda. Pemerintahnya sangat kreatif dengan menyediakan peta yang berupa game dimana kita ditantang untuk menemukan creative art yang di buat di jalan-jalan tertentu. Masing-masing creative-art itu di beri nomor di peta disertai petunjuk jalannya, sehingga ketika kita sudah melihat semua creative art itu, itu berarti kita sudah melewati seluruh jalan di George Town. Selain membuat jalan dan tembok tua mereka lebih indah, kita yang jalan-jalan juga jadi asyik kan ;) . Di tepi-tepi jalan tersebut juga banyak menjual souvenir dengan harga murah. Yang menarik ternyata perancang sepatu terkenal Jimmi Cho berasal dari Penang, di tembok dekat rumahnya dibuatkan creative-art yang berkaitan dengan dia.

Salah satu creative-art di lorong George Town
Creative-art di lorong George Town

Ni juga nii

Ben's Vintage Toy Museum

Salah satu panduan tujuan saya adalah Trip Advisor, jadi ketika saya bersepeda memutari lorong di George Town saya menemukan plang nama Ben's Vintage Toy Museum, saya langsung teringat atraksi utama di Trip Advisor yang sudah saya baca. Singgah deh kesitu..hehehe.

Museum ini ternyata punya pribadi, jadi rumahnya ini dijadikan museum karena dia suka mengoleksi mainan-mainan lama yang masih dirawat dengan baik oleh pemiliknya.




Chocolate & Coffee Museum

Setelah dari Ben's Museum, saya langsung fokus ke tempat-tempat yang memang sudah saya targetkan di itenary saya, salah satu target utama yaitu Cheong Fatt Tze Mansion. Tetapi sesampainya disana loket sudah ditutup untuk jam tsb, saya harus datang lagi pukul 14:00 untuk sesi berikutnya :(
Untunglah ketika saya tanya kepada petugas loket, ada tempat tujuan saya yang terletak dekat disitu, jadi mari kita ke Chocolate & Coffee Museum :)


Disini diceritakan sejarah dan perkembangan kopi dan coklat, dan tentu saja sekalian mereka berjualan. Jualannya itu yang bikin galau. Ada bermacam-macam jenis kopi dan cokelat yang rasanya saya ingin beli semuanya, tapi uangnya yang ga kuat :D. Jadi yang penting sya cobain testernya, semuanya,hahaha. Harga coklat RM 60, kopi RM 26.

Ternyata Indonesia adalah negara ke 3 terbesar di dunia untuk penghasil coklat
Tapi sama sekali tidak ada kreativitas atau ide untuk membuat museum seperti ini yang bisa mendatangkan banyak keuntungan dan ilmu, bahkan menjadi tujuan utama turis dunia. 
Coffee Process, dilukis di dinding museum

Nasi Kandar Line Clear

Keluar dari museum tepat di jam makan siang, saya membuka Google Maps untuk mencari tempat makan tujuan saya yaitu Nasi Kandar Line Clear. Ternyata tempatnya biasa saja, terletak di sebuah gang kecil di samping sebuah rumah makan nasi kandar juga. Jadi jangan sampai tertipu, akrena saya nyaris masuk ke rumah makan tsb. Untung saja, saya bertanya lebih dulu, ditunjukkanlah jalan disampingnya. 




Untuk masalah rasanya, kalau dari selera saya sih enak..hehe. Ada rasa seperti masakan Padang sedikit, Melayu sedikit, yang pasti ayamnya enak :). Makan dengan lauk ayam+ teh tarik  RM 8,6

Setelah makan siang, saya yang sudah lumayan hafal jalan (cieee gayaa), memutuskan balik hotel dulu buat shalat dan istirahat. Sebelumnya memenuhi target dulu ke mall buat ngopi dan beli tumbler Starbuck karena ada edisi khusus RM 33 (lebih murah dari di Indonesia :()

Cheong Fatt Tze Mansion

Mengayuh sepeda di terik matahari, ohhh la la, tapi demi tercapainya target itenary, maju terus. \^0^/
Sesampainya di Cheong Fatt Tze Mansion, loket sudah dibuka dan ternayat harga tiket RM 12 sudah termasuk tour guide,seorang ibu yang sudah berumur tapi sangat aktif dan humoris. 

Jadi ceritanya ni mansion adalah rumah pribadinya keluarga Cheong Fatt Tze, salah satu orang terkaya dan berpengaruh di Penang. Dia berasal dari Cina dan memulai karirnya dari menjadi kuli, sampai akhirnya berhasil dan menikahi seorang putri kaya juga. Sayangnya ketika beliau meninggal, penerusnya tidak berhasil mengelola warisan dengan baik dan akhirnya menjual semua harta. Mansion ini pun menjadi terbengkalai dan rusak. Karena mansion ini secara arsitektur unik dan langka, dan mempunyai nilai histroris,maka dibeli oleh kelompok pengusaha pecinta budaya dan akhirnya di renovasi yang memerlukan waktu lama karena dilakukan secara manual dan teliti. 




Di saat tur, saya menanyakan apakah Cheong Fatt Tze mempunyai hubungan dengan Tjong A Fi di Medan yang rumahnya juga menjadi museum sekarang, fakta mengejutkan ternyata mereka masih saudara sepupu. Wow,saya senang sudah mengunjungi keduanya. Mengenai Tjong A Fi house, bisa dibaca di sini.

Camera Museum
Tujuan saya berikutnya adalah menuju Port Cornwallis, tetapi takdir berkata lain, ketika saya memutari lorong, saya menemukan Camera Museum. Seperti sebelumnya saya juga sudah membca review museum ini dari Trip Advisor, apa salahnya singgah kan ;). Tiket masuk RM 20 sudah termasuk stiker dan bonus voucher diskon buat belanja di gallery-nya, lumayaannn.


Welcome Sign Camera Museum
Museum ini tidak luas, tapi unik dan menarik. Mereka menatanya dengan sangat kreatif dan lengkap, hampir semua model kamera ada disini. Bahkan ada ruangan dimana ketika kita di dalamnya, kita seolah-olah berada dalam kamera dan kita bisa tau proses yang terjadi di dalam kamera. Selain itu juga terdapat ruangan Spy, dimana kita bisa melihat semua peralatan yang digunakan dalam dunia detektif seperti kamera di pulpen, lighter dsb.

Macam-macam jenis kamera
Spy Room

So many creative things around



Fort Cornwallis 
Tujuan berikutnya yaitu Fort Cornwallis, tempat ini wajib didatangi karena dari sini kita bisa melihat pemandangan kota Penang di tepi pantai. Merupakan benteng yang bersejarah dan bagus didatangi di saat senja. Tiket masuk RM 2 (murah yaa....)

Fort Cornwallis

O I love these view
With Sir Francis Light, pendiri Fort Cornwallis dan yang mengembangkan Penang
di masa penjajahan Inggris
Sengaja menghabiskan sore disini, ketika saya keluar dari benteng ini, matahari sudah mulai terbenam, bersepeda dengan suasana seperti ini malah tambah bikin ga mau pulang. Pengennya ya muter-muter aja terus, benar-benar ga terasa capeknya. Sebetulnya sepanjang jalan yang kita lewati banyak tempat-tempat menarik untuk dilihat. Berhubung waktu saya sempit, saya hanya bisa singgah sebentar untuk foto objek-objek tsb.

Bangunan-bangunan menarik yang saya lewati di George Town
Senja di GeorgeTown

Jalan pulang ke tempat penyewaan sepeda


Finally, time to back to hotel, Nite is comin

So....it;s time to say good bye to Penang. If I have any other chance, I would love to come back here again. There are some places I have not seen yet and they are calling. 

Qq Pamiiiiiitt

“Never did the world make a queen of a girl who hides in houses and dreams without traveling.” 
― Roman PayneThe Wanderess

18 Stucked


I think you should be a child for as long as you can. I have been succesful for 74 years being able to do that.  - Bob Newhart-

If Bob Newhart said in his quote about being child. I my self have been succesful for 29 years.
I wish time is stop and my childhood is eternal. In missing u Dad...think about this :')

Rumah Pelangi


Setahun Bersamamu
Ga terasa, April tahun ini sudah setahun tinggal di Jakarta, tepatnya 8 April 2013 yang lalu kita pindah kesini. Seperti di posting sebelumnya, mimpi pun tidak untuk tinggal di kota ini. Tetapi seiring sudah disini, punya rumah disini, indeed my life is here. 

Hal yang paling membahagiakan tentu saja sudah punya rumah sendiri. Kayaknya salah satu pencapaian berumah tangga mungkin itu ya (menurut saya sih), bisa punya rumah pertama yang dibeli sendiri tanpa bantuan orang lain (tetapi dibantu bank,heuheuuu >,<).  Rumahnya sendiri sebetulnya sudah dari tahun 2012, kasian dia dikosongin dulu karena yang punya masih di Sumatra. Beli rumah dulu sempat galau, bukan galau mau beli apa engga, tapi galau belinya dimana. Secara si mas di KalTim saya di Sumsel, Ortu saya di KalBar, ortu doi di Solo. Tentu saja hasilnya terpaksa di tengah-tengah alias Jakarta, biar adil nooh, mamanya dia en maknya eike ga ribut,hahah. Gegara bingung itu juga akhirnya belinya molor, dari tahun 2011 pengen punya rumah, tahun 2012 baru dapet. 

Proses pencariannya juga galau, ada yang kompleknya enak, tapi mahalllllll, ada juga yang jauuuuuhhh banget. Selama berapa kali ke Jkt kita sampe pernah nginap di hotel Bintaro,penginapan aneh di Jagakarsa, sewa apartemen di Kebagusan, trus nginap di rumah Mb Ida, dan tentu saja yang paling banyak bantu the last but not least Neng Yando :'). Si Yando ini selalu dengan lapang dada membiarkan saya menginap di rumahnya di Jagakarsa, nemenin saya naik motor muter-muter liat rumah, sampe ngasi nasehat-nasehat yang berguna biar saya ga keblusuk beli rumah di Ujung Kulon. Mungkin karena keseringan main ke Jagakarsa juga kali ya yang bikin saya jadi beli di situ juga.

Setelah begitu banyak rumah yang dilihat, sampe saya bingung tujuh keliling, akhirnya memilih rumah dengan cara  layaknya di How I Met Your Mother Series, alam yang menjawabnya. Ceritanya setiap kita janjian dengan makelar, kita ditunjukan rumah yang berbeda-beda, tapi ada 1 rumah yang walaupun makelarnya beda-beda, tapi rumahnya sama. Ya rumah kita ini :). Kita dibawa 3x ke rumah ini oleh 3 makelar yang berbeda. So I guess this house is made for us. Alhamdulillah setahun tinggal disini betah banget, mau ke stasiun kereta dekat (ga sampe 10 menit naik motor), tetangganya baik (sering dapet delivery service :P) dan saya merasa aman walaupun sering sendiri karena komplek tertutup dan satpamnya care karena cuma 7 rumah yang diperhatiin,hehehe. Karena cuma 7 rumah ini juga lah, se komplek tetangga kenal semua, tiap ada yang ultah saling ngucapin, punya group di whatsapp,dan jadi merasa punya keluarga disini ;').

Saya namakan Rumah Pelangi, ya karena nama clusternya Grand Mutiara Pelangi. Dan dalam kehidupan saya dan mas di rumah ini pastinya akan banyak warna warna kehidupan, entah warna kebahaagian, kesedihan, berantem, seneng-seneng, yang bakalan jadi Pelangi dalam hidup kami. Semoga berkah. Amiinn.

Penang Trip - Day 1


Ada long weekend lagiii, mari cari tiket murah!!!! Itulah kerjaan kalau liat kalender. Tahun baru cina (imlek) jatuh hari Jumat dan itu anugerah buat kita. Tapi liburan kali ini sebetulnya ga jelas, sudah tau liburan tapi ga da orang yang bisa diajakin buat jalan L. Hal yang saya paling sebelin dengan sistem kerja suami saya adalah INI. Saya ga bisa ajak dia travelling di long wiken2 seperti itu karena dia masih ON di site sana. Berapa banyak long wiken tersia-siaaa. Untungnya dia bukan tipe suami posesif yang ga bolehin saya macam2 atau batas2in ga jelas. That’s why I marry u beib :P.
Pembukaan cerita trip ini agak panjang yaaaa.

So back to the plan, dari yang awalnya pengen ke Belitung, Derawan, terus ganti ke Pekanbaru aja karena saya jatah war room minggu ini ke Lirik yang notabene dekat Pekanbaru (lumayan kan hemat tiket :P). But as we know, human plan, God decides. Ternyata war room bukan di Lirik, tapi pindah di Medan. Jiaaa, langsung belingsatan langsung hunting tiket kemana yang dekat-dekat Medan. Agak bingung karena seputaran Medan sudah saya datangin semua, yang belum cuma air terjun SiPiso Piso dan Simalem. Pengen ke Nias atau Mentawai tapi kayaknya ga asyik sendirian kalau kesono. Suddenly ingat Penang (orang Msia bacanya Pineng), cek harga tiket murah, trs browsing hotel murah, browsing tujuan wisatanya oke. Akhirnya confirm mau ke Penang, tapi hari itu saya pending beli karena ga tau jadwal war room dan masih pengen nyari temen jalan kesono.

Nampaknya emang sudah suratan takdir, berapa banyak orang yang sy contact, semuanya ga matching dg plan kali ini,..hiks. Sy galau, buka website harga tiket udah naik (setengah BT juga), apalagi Garuda yang Cuma 400rb aja uda jadi 700an. Kekiiiiii. Akhirnya beli Air Asia 295rb penerbangan paling pagi dari Medan – Penang (nekat walaupun belum tau jadwal War Room). Hotel masih sy pending dengan setengah deg2an dengan meyakinkan diri, kalau memang jodoh ke Penang besok last room yang tertera di Agoda ini adalah buat saya. Beberapa kali buat meyakinkan diri whatsapp sama Nurul yang backpacker-an sendiri ke Jepang brp bulan yang lalu. Dalam hati saya, ke Jepang aja Nurul bisaaa, masa cuma ke Penang yang di Malaysia aja saya ga survive :D *padahal deg2an*.

Malamnya saya tidur ga nyenyak, benar-benar alam bawah sadar saya memikirkan hal tsb. Padahal mas sudah ngasi support, tapi sayanya yang goyang, dalam tidur saya memikirkan, kok saya bego ya langsung beli-beli aja tiket ga mikir panjang. Mbok ya bersabar nunggu ada temen, Penang ga kemana-mana. Akhirnya telpon si Mas lagi, bilang ragu en bingung, melihat saya seperti itu si Mas akhirnya bilang, ya sudah kalau ragu batal saja. Refund tiketnya. (Emang bisa ya tiket semurah itu direfund?:D). Ok, saya bertekad sampai di Bandara Kuala Namu harus langsung ke Counter Air Asia buat refund. Thats my plan.

God decided differently. Saya lurus-lurus aja keluar bandara langsung cus ke Rantau-Aceh, ga da kefikiran refund. Malah meyakinkan diri kalau kamar hotel terakhir itu masih ada saya akan berangkat. Besoknya saya malah browsing beli tiket Penang-Medan dan booked last room yang ternyata masih ada. *amaziinggg*. Dan tentu saja harganya sudah naik baik kamarnya maupun pesawatnya. SIGH.

Ok ...let gooo. Perjalanan KNO-PEN hanya sekitar 45 menit dan hampir seluruh perjalanan saya tidur :D. Sesampainya di Penang Airport saya agak bingung mencari bus shuttle untuk ke down town. Untunglah saya melihat counter Malaysia Tourism dan singgah disana lumayan lama buat tanya-tanya (karena antri) dan mengambil semua peta atau brosur yang saya anggap berguna. Sebelum cabut, sy memutuskan untuk membeli Simcard lokal supaya bisa tetap internetan. One u must remember, when u decided to have solo trip, prepare with hard copy/notes of ur research and ofcourse Google. Provider yang saya pilih adalah DIGI,karena banyak yang bilang paling friendly ama kita orang Indo (hasil browsing :D). Harga digi perdana card RM 16, sudah include 2 hari internetan gratis @150MB dan pulsa RM 6. Lumayaaann (saya malah bisa telpon mas di Indo dengan pulsa bawaan kartu ini).

Halte bus atau lebih dikenal dengan nama Rapid Penang ini ternyata memang harus menyebrang sedikit dari luar bandara. Selain naik bus, kita juga bisa naik taksi tentunya. Tapi saya pilih yang murah lah ya, taksi RM 50 sedangkan busnya RM 2,7. Kekurangannya tentu saja kita harus menunggu sampai bus tujuan datang, lumayan lama karena ketika saya sampai, si bus barusan berangkat, hampir 1 jam baru tiba bus 401E (Balik Pulau – Jetty). Itu rute yang harus kita pilih kalau tujuannya ke George Town. Sebagai bus angkutan dari bandara, tentu saja DAMRI jauh lebih baik. Sepanjang perjalanan 1 jam itu saya Cuma bisa berdiri nyender tiang karena penuh minta ampun.

Saya menginap di Georgetown, karena dari hasil searching, this is the best place to stay in Penang. Saya menginap di Apollo Inn, dari awal sudah email2an sama stafnya yang super nice, sampe ngasi peta jelas banget menuju hotel. Kalau menginap di George Town, turun di Terminal KOMTAR (Kompleks Tun Abdul Razak),dari sini saya cuma jalan kaki 10 menit menuju hotel. FYI, kamar yang tersisa yang saya booked adalah mix dorm (hehe,jangan kaget), mix dorm nya disini beda dengan hostel biasa karena kasurnya empukk banget kayak hotel bintang 4 dan setiap tempat tidur ada pemisahnya. Jadi privacy masih terjagalah.  Worth it pokoknyaa ama harganya. Titip backpack, saya langsung cabut menjalankan misi. :D

1      Penang Hill
Tujuan pertama saya adalah Penang Hill a.k.a Bukit Bendera, sy jadikan itenary number 1 karena rasanya ga sah ke Penang kalau ga kesini, tambahan pula tempatnya paling ujung jadi kalau mau kesana harus prepare waktu yang cukup.

Menuju ke Penang Hill, tentu saja ke Terminal Komtar dulu, naik rapid bus jurusan 204, biaya RM 3.4. Berhubung hari itu adalah Hari Raya Imlek, bus penuuuh dan lagi-lagi saya berdiri. Hiksss. Bayangpuunnn, 1 jam perjalanan berdiriiiii (baca nyender). Sampai disana hari sudah siang, langsung buru-buru antri tiket karena orangnya bejibun. Tiket masuk RM 30 (quite expensive heh), padahal untuk warga lokal cuma RM 9 (sungguh tak adil!!!).

Masuk ke dalam kita langsung disambut dengan kereta api dengan dinding bening, dan sungguh menakjubkan, ni kereta bener-bener menanjak mungkin lebih kurang 45 derajat ke atas. Wow..takjub plus rada ngeri, hehe. Indonesia kapan ya bikin kayak gini, jadi kalau ke atas bukit ga capek naik ribuan tangga :D.

sumber : disini
Sy ga sempat foto karena amazed,hehe

Sesampainya di atas pemandangannya super, kita bisa melihat seluruh Penang, bahkan bisa melihat Malaysia daratan (KL dan sekitarnya) serta jembatan keren yang menghubungkan Penang ke Malaysia yang sono.

Pemandangan dari atas Penang Hill
Di atas Bukit Bendera ini terdapat masjid, kuil india, taman, kafe2 dan Owl Museum. Berhubung harga tiket museumnya rada mahal,kita lewatin aja yaa dan hal itu sangat saya syukuri karena ketika makan siang di kafe atas, dapat tau kalau di dalamnya cuma ada patung/boneka dan gambar2 burung hantu saja ga ada burung hantu yang asli.

Di atas PEnang Hill/Bukit Bendera


Menu makan siang : Char Kuey Tiow atau bahasa Indo nya Kwe Tiau (RM 5) + Jus (RM4). Yang pasti jauh lebih enak kwe tiau di Pontianak.

 
Char Kwe Tiaw (rasanya biasa aja)
Selesai makan saya menyempatkan diri shalat dulu di masjid atas bukit, sayang kalau dah jauh-jauh kesini ga shalat. Lalu buru-buru turun ke bawah mengejar kereta api. And fyi, di Penang Hill ini saya jadi bahan tatapan aneh orang-orang, karena ternyata cuma saya yang datang kesini sendiri. :D EGP

2    Toy Museum
Dari Penang Hill, saya naik bus kembali menuju Komtar, karena tidak ada bus langsung ke Tanjung Bahang tempat Toy Museum ini berada. Menunggu bis lumayan lama dan lagi-lagi harus berdiri karena penuh L.  Untuk ke museum ini naik rapid bus 3.4 MYR.  Sebaiknya katakan tujuan Toy Museum ke supirnya karena letak museum ini agak tersembunyi, sehingga kita tidak bisa melihat dari tepi jalan. Setelah stop di simpang empat dekat tulisan Tanjung Bahang, belok kiri dan jalan kaki sebentar sampai menemukan petunjuk Toy Museum.
Ini penanda simpang kalau mau stop di toy museum 
Saya baru tahu kalau museum mainan terbesar di dunia ini ada di Penang, kalau tau seperti itu pasti saya tunggu mas yoyo cuti dulu baru kesini.*merasa bersalah*. Soalnya saya baru tau setelah membaca brosur yang saya ambil di Tourisme Office bandara.

The Largest and Costliest...wow
Di dalam museum ini mainannya lebih ke action figure segala macam tokoh (dari Barbie, Batman, SpiderMan sampe Spongebob ada).Kyaa..wish si Ndut ikutaaan.
Untunglah saya bawa TongSis, hahaha, jadi saya bisa mengabadikan diri saya bersama action2 figure yang gede-gede.
Selfie Time (sengaja di shine fotonya, biar keliatan alaynya :P)

3 
Dari Spidey, SailorMoon, Barbie, semua adaaaa
Sebagian koleksi Toy Museum

         


           Pantai Feringghi
Puas liat-liat maenan, saya mengejar waktu untuk melihat sunset di Pantai Feringghi. Pantai ini dari Tanjung Bahang searah pulang ke kota, sehingga tidak perlu memutar balik nantinya.Di pantai banyak water sport seperti di Bali, karena ga punya teman saya ga main (padahal pengen). Jadinya saya Cuma santai di lazy chair yang disediakan di sepanjang pantai dan juga menyusuri pantai sambil tetap foto narsis dengan tongsis (banyak orang ngeliatin, keabnyakan mereka amazed dengan alat tsb. Apa Cuma ada di Indo?). Saya suka disini, banyak pemandangan indah, padahal saya bawa SLR, cuma modal hp ama camdig doang.
My Fav One



Feringgi BEach
Selain sunset yang paling saya tunggu adalah Night Market disini. Menjelang malam banyak stand-stand yang dibuka sepanjang jalan di Feringgi seperti di Malioboro. Satu demi satu stand saya masuki, tapi ga habis saking panjangnya, kaki dah gempor, langsung muter deh nyari halte bis pulang.

Night Market Feringgi, baru pada buka
Sampe Komtar jam 9 malam, perut keroncongan, saya singgah dulu di KFC. KFC nya di sini ada mashed potatonyaaaaaaa, kyaaaa, enaaakkkk. Sayang sama seperti di Johor ataupun KL, saosnya rasanya aneh, kemanisan gitu deh. 
Paketnya pake mashed potato dan roti, enakkkkk

 Pulang hotel, jam 10 sambil mengendap2 karena takut gangguin orang. Eh si Bule masih belum bobok..Cuma bisa nyengir kuda sambil bilang "Sorry if I'm noisy" :D


Hal yang harus diingat jika menggunakan Rapid Penang :
1. Siapkan ancer-ancer turun, bus di Penang tidak mempunyai kenet yang berteriak-teriak bus mau kemana atau sudah sampe mana.
2. Tidak bisa naik sembarangan, di setiap jarak tertentu ada halte untuk rapid Penang, jadi naiklah dari situ.
3. Turun boleh dimana saja asal pencet tombol stop yang akan membunyikan bel. Tombol ini jumlahnya banyak, hampir di setiap tempat duduk/tiang. So, jangan ketok-ketok plafonnya kayak di Indo lah yaa.                                                                                                            4. Paling aman duduk atau berdiri dekat supir kalau ga tau tempat brenti kamu dimana,ingatin terus supirnya dimana km mau mau turun. Jangan kayak sy, supirnya lupa nurunin di Pantai Feringgi..hahaha. 

Pizza Express


Subuh-subuh sebelum ngantor ga sengaja nonton MnC Food and Travel, topiknya 5 Resto Pasta terbaik di Jakarta. Secara kita hobby nyoba icip2 kuliner, akhirnya saya ama si Mas serius nyimak. Dari 5 tempat pasta itu, akhirnya kita memutuskan nyobain Pizza Express karena posisinya paling gampang didatengin, maklum belum punya mobil en lum tau jalan Jakarta. Hehehe. 

Pizza Express yang kita datangi adlaah Pizza Express yang di Mall Kota Kasablanka. Walaupun nama tempatny Pizza Express, berhubung kita kesono gara-gara review pastanya, qt jadinya ga order pizza, hhihii (next time bebeh). 

Pesanan kita : 
1. Spagetti Pollo E Fungi (IDR 65000) 


And guyssss, sumpeee, this is the best spagetti i ever tasted so far. Enaakk banget. Pake topping ayam dan jamur daN pake bumbu dasar pasto yang mengandung kacang mete. Masih kebayang enaknya. 

And u know, selesai makan disitu, qt langsung buru-buru belanja bahan untuk bikin yg kayak ginu di rumah. Hasilnya not bad, enaakkk biar ga mirip plek, hehehe ( si ndut sih yg bikin, bukan eike :D)

2. Dolcetti Package (IdR 42000)


 Jadi disini ada paket desert yang namanya Dolcetti Package, dimana kalau kita pesen paket ini kita sudah mendapatkan desert and free coffee. Ada 3 pilihan desertnya, tapi kita kemarin pilih desert roti bahan pizza disajikan panas dengan nuttela. Keliatannya simple bangett yaa, tapi enaaakkkkkk *drooling*

3. Drinks 

Untuk kopinya kita pilih ice coffee latte machiato. Rasanya so so laah, masih enakan machiato Starbucks or Tou Le Jours. 

And kalau kita pesen Ice Tea such as Blaccurant Ice Tea or Lemon Ice Tea (IDR 25000), kamu bisa refill sepuasnya ^_^ 



Makan dimana lagi kita yaaaaa :)

Warga Jakarta


Setelah sekian lama saya pengen posting hal satu ini, saat ini baru bisa saya tuliskan. Sssttt, all bosses are out of office, I just take couple minutes while this company has been taken so many times of mine. yeayyy.

So saudara-saudara, finally saya resmi jadi warga DKI Jakarta. Officially warga Ciganjur - Jagakarsa setelah bulan lalu KTP saya diberikan. Flashback ketika zaman kuliah, saya ingat sekali sering mengatakan, kota yang tidak akan saya pilih sebagai tempat tinggal adalah Jakarta. Padat,macet, rame, bla bla bla, khas komentar warga non Jakarta. Selalu dengan idealnya bilang akan tinggal dan beli rumah di Yogyakarta, apalagi ketika ada pesawat langsung Yogya - Ponti. Yaaahh, saat itu saya tidak tau kalau saya suatu hari di umur saya 20an menjelang 30, saya dan suami saya mengalami LDR beda pulau yang menbuat saya craving for an airport. Saya tidak tahu kalau saya akan bekerja di Pertamina yang EP yang tidak ada cabangnya di Pontianak atau Yogya. We really dont know future dont we.

Resmi jadi warga Jakarta, saya rindu :
-  Bangun subuh lalu lanjut tidur lagi sampai bunyi suling membangunkan lagi untuk mandi dan tunggu suling lagi untuk berangkat kantor, 5 menit dah sampe kantor.
-  Buka FB pas datang kantor untuk main The Sims Social, lanjut main lagi sebelum istirahat, lanjut lagi setelah istirahat, lalu sebelum pulang kantor. Disini saya lupa rasanya fun seperti itu dikantor.
- Tidur siaaaangggg
- Pulang kantor jam 4 sore sampe rumah jam 4 lewat 10.
- Sepedaan kalau mau ke Kopena atau sekedar putar2 keliling komplek sepulang kantor
- punya kamar luasssss...hahaha. Kamar saya di Prabu bahkan bisa buat ditambah meja pingpong kayaknya. 
- Kuruuusss.. Berat badan resmi naik 6 kg disini :(

Tapi saya sudah menikmati kok jadi warga Jakarta :
- Sudah ahli menentukan timing berangkat ke kantor walau bangun telat :P Thanks God masih bisa tepat waktu walau kadang telat bangun jam 6.
- Enjoying the commuter line. I dont how would be my stress if I face the traffic jam outside. 
- I can go to movies even everyday if I want. Oh... I love this one
- Ngopi-ngopi nyemil nyemil enaakkk...
- Belanja online ga khawatir ma ongkir :P
- Mulai belajar maen golf...eh baru driving2 aja kok ...*nyesel dulu di Prabu ga belajar*
- Bisa ikutan kelas Zumba dan Combat..eaaaaaa
- Mau beli apa aja ga perlu susun jadwal en tunggu ke Palembang,,,hehehe

Enjoy Jakartaaaaa :)

Padang - Bukit Tinggi


Travelling with Widong are always unpredictable - insidental dan full of lucky :)
Setelah sekian lama kita berdua melakukan separated travelling, she was very very busy as a worcaholic career woman when I went to South Korea, and I cancelled the ticket for our Bromo Touring in the last minutes, finally we had time for travelling together again. And it;s just two of us :)

Di suatu siang ketika berdua saja mendadak saja saya berkata "Mb Widi, weekend ke Penang yok". It;s been so long time we want to travel there. Unfortunately both of us left our pasport      -__-. But then her respond was out of control, she said "Padang aja gmn, kita lum pernah kesana". And I said " cek tiket, kalau murah langsung cus". Ternyata semesta mendukung, tiket so murah kali lah. No plan, no picture of our travel, kita pesen tiket. Mulai deh konsultasi dengan Mbah Gugel at least biar dapat gambaran lah tur kesana itu kemana aja,hehehe. Sms, whatsapp, bbm pun dimulai ke teman2 asli Padang ataupun yang sudah pernah kesana. Thanks God all of information helped us lots.

Satu-satunya jalan untuk travelling di Sumbar dengan waktu yang sangat sedikit adalah dengan menyewa mobil. You dont have to wait and look for the public transport and you can manage all the travelling in your hand. Resikonya cuma satu : MAHAL. Tapi kali ini kami memang tidak punya pilihan lain. Lagipula ini bukan backpacker trip, tapi koper trip, because we really did bring suitcase alias koper :D.

Sewa mobil di Padang rata-rata sama, 350rb/hari dengan supir (belum bbm, belum akomodasi supir ya). I called the rental at 11pm (sadiiiisss, bangunin si bapak jam sgitu, untung diangkat,hahaha). Minta jemput di bandara karena kami menggunakan 1st flight ke Padang. Soo,,,let's begin the trip

Day 1
Tiba di Minangkabau Airport lebih kurang jam 7an pagi. Nothing special with the airport but the roof, it's Minangkabau's roof, the other things are so so. Kuala Namu airport, Hasanuddin Airport and Sultan Mahmud Badaruddin Airport are more sophisticated as an international airport. Bertemu dengan supirnya Pak Wendra, kita langsung membahas jalur perjalanan, dan itu membuat kita agak stress, ternyata tempat wisata di Sumbar banyaaakk sekali dan waktu yang kita punya sangat sedikit. Galauuuuu.

Sebelum mulai jalan, mari kita coba sarapan khas Padang dulu, namanya Katupek Fitalah atau gampangnya ya Ketupat Sayur. Bedanya dengan ketupat sayur pada umumnya tentu saja bumbu dan santannya ni, benar-benar Padang sekaliii. Bagi saya yang ga suka sarapan berat en full santan, agak kurang cocok sama makanan satu ini.


Setelah sarapan, kami lanjut ke tujuan kami menyebrang ke Pulau Pagang. Sebenarnya banyak sekali pulau - pulau yang bertebaran, yang paling terkenal tentu saja Pulau Mentawai, tapi sayang untuk pergi kesana saja butuh waktu 1 hari sendiri, so leave it fot other time. Pelabuhan paling terkenal di Padang seantero nusantara pastinya Teluk Bayur (ingat zaman SD dulu suka karaoke lagu ini dengan falsnya :D), tapi sekarang Teluk Bayur hanya dibuka untuk pelabuhan barang saja, sudah tidak ada kapal penumpang sebagaimana Erni Johan mengantar kekasihnya dengan lagu Teluk Bayur itu. Kami menyebrang ke Pulau Pagang dari Bungus dengan harga sewa kapal 650rb. And fyi, I got the boat about 30 minutes before and it was from www.berniaga.com,lol. Internet is such a bless from God for human being nowadays. Lucky us.


Perjalanan ke Pulau Pagang lebih kurang30-40 menit dan pada hari itu tidak ada pengunjung lain selain kami. Omg, that was our island beibeeeehhhhh. It was OURS. Btw, kenapa di pulau seindah itu hanya dengan Widong seeh yaa, harusnya dengan suami neh,hahaha. I wish.
Kita makan siang di Pulau Pagang, tentu saja sudah bekal dari Padang,karena di Pagang tidak ada yang berjualan, cuma ada 2 orang yang menjaga pulau tersebut. Makan siang hari itu adalah salah satu makan siang ternikmat dalam hidup saya. Di tepi pantai sunyi, angin sepoi dengan nasi lauk kepala ikan, ayam bakar dan balado pete teri (sumpah ini pertama kalinya saya makan pete). Fyi, makanan enak ini kita beli di RM. Gulai Laut Karang. Wajib coba balado pete terinya kalau kesana yaakkk. Masuk Pulau Pagang bayar 15rb/orang.

Duo Alay - Bolangwati Foreva

Cantik pulaunya bikin ga mau pulang
Setelah puas di Pulau Pagang, kita memutuskan untuk menyebrang ke Pulau Sikuai. Pulau ini dulunya merupakan salah satu pulau tujuan utama para turis, sekitar 15 menit dari Pulau Pagang. Berkebalikan dengan Pagang yang belum mempunyai resort atau fasilitas, Sikuai ini sebetulnya sudah sangat lengkap sampe kolam renang dan kasino aja ada. Sayangnya karena permasalahan sengketa pengelolaan, semua fasilitas tersebut sekrang sudah ditelantarkan. Pulau itu sekarang lebih cocok jadi tempat syuting film horror kayaknya kalau melihat kondisi fasilitasnya. Sungguh sayang sekali, karena dengan sisa2 fasilitas tsb saja saya sudah bisa membayangkan betapa indahnya kondisi pulau ini pada masa jayanya. 


-Sikuai Island-

Bahkan menurut bapak yang punya kapal, dulu dia ketika mengantar turis disana bayarannya pake dollar saking majunya pariwisata di Pulau Sikuai ini. Sayang sungguh sayang, sekarang cuma tinggal cerita saja. Bapak kapal ini walaupun sudah tua bahasa inggrisnya tokcer karena sering mengantar turis asing, doi belajar otodidak, sampe pas jalan ama kita aja suka kelepasan ngomong bahasa Inggris (eaaaa, si bapak). Kami pun tidak lama di pulau ini karena mengejar waktu untuk mengunjungi pantainya si Malin. Yang pasti, ternyata di barat Sumatra ini banyak sekali pulau-pulau indah tersembunyi, pasir putih selembut permadani (sumpah ini bukan berlebihan, pasirnya benar-benar lembut, sampe saya pengen tidur aja di pasir), dan yang pasti masih bersih. Sayangnya ga sempat snorkling, padahal sumpah airnya bening menggodaaa. Next time bebeh.

Tujuan selanjutnya adalah Pantai Air Manis, diisnilah batu si Malin Kundang legenda terkenal se antero nusantara.  Saya rada salah tafsir, kirain dulu si Malin Kundang ini terletak di Teluk Bayur, ternayata di Pantai Air Manis inilah si Malin berada. Pantainya berpasir hitam, tidak seperti pantai di pulau Pagang ataupun Sikuai, persamaannya adalah kelembutan pasirnya. Sayangnya pantai ini kurang rapi penataannya, semrawut.

Batu Malin Kundang
Percaya ga percaya kalau liat batu-batu ini, cuma Tuhan yang tau. Malin Kundang ada di foto kiri atas dengan pose bersujud, lalu lihat saja tumpukan tali, tong - tong yang begitu detail membatunya. Wallahualam. Saya sama Widong agak-agak merinding juga pas lihat, sampe yang awalnya niat ambil sedikit batunya buat di tes di lab akhirnya batal karena takut kenapa-kenapa.hehe.

Sunset di Pantai Air Manis
Sepulang dari Pantai Air Manis, kami langsung bersiap menuju Bukit Tinggi. Tak lupa minta singgah ke Jembatan Siti Nurbaya yang terkenal di tipi zaman dulu itu. Saya salah faham juga dengan jembatan ini, saya kira dinamakan Siti Nurbaya karena jembatan ini tempat pertemuan Siti dengan Syaiful Bahri. Ternyata tidak sama sekali..hehehe. Hal ini dikarenakan jembatan ini merupakan jembatan menuju ke kuburan Siti Nurbaya. Ternyata Siti Nurbaya benar-benar nyata ya. Banyak juga salah faham saya di Padang ini :D

Yang ada banyak lampu di belakang kapal itulah jembatan Siti Nurbaya
Jika siang hari, akan keliatan jelas berwarna putih
Tak lupa pula kita singgah ke toko souvenir Christine Hakim yang terkenal di Padang. Berhubung sudah dapat tips dari pak supir kalau di Bukit Tinggi jauh lebih murah, kita disini cuma liat-liat dan cek harga aja,hehehe. Jangan lupa makan nasi goreng dan Martabak Kubang ya sebelum lanjut ke Bukit Tinggi :) Nyammm

Day 2 
Kami tiba di Bukit Tinggi pukul 10 lewat, saya langsung suka dengan suasana kotanya. Tipe-tipe kota kecil yang dingin dan bersih, mungkin agak-agak mirip Berastagi atau Batu-Malang. Kami menginap di Hotel Ambun Suri  di Jalan Panorama, agak ragu sebetulnya menginap di hotel ini mengingat review yang sangat minim di internet. Berhubung dengan kondisi kita yang mendadak dan yang harus diingat, saat weekend, hotel-hotel di Bukit Tinggi pasti full. So, book ur hotel jauh2 hari sebelum kesini. Kami hanya dapat 1 malam disini, di kamar standar dengan rate 250rb (murah ya :P), untuk malam berikutnya masih pasrah mau nginap dimana. Si Widong malah udah menyarankan untuk tidur di mobil atau masjid.hahaha. Setelah masuk kamar alhamdulillah tidak mengecewakan, yang paling utama adalah bersih, tidak lembab atau bau apek, serta kamar mandi OK. Bonusnya : air panas. Alhamdulillah.

Bangun pagi jam 7 udah nongkrong di lobby, sudah tergoda dengan ibu-ibu yang berjualan depan hotel. Itulah orang Padang sodara-sodara, berdagang setiap kesempatan,,,eh no hurt feeling ya wong Padang. I like that fact, karena kita jadi dimudahkan belanja...jia ibu ibuuuu. Setelah puas, langsung cuss ke tujuan pertama yaitu Jam Gadang, icon kota BUkit Tinggi!!!! Cukup jalan kaki 5 menit dari Hotel Ambun Suri.

Jam Gadang
Yang unik dari jam ini adalah, angka IV pada jam ini ditulis IIII
(entah ga tau entah lupa, hehe)
Di sekitar area jam ini banyak yang berjualan souvenir dan kaos-kaos khas Padang-Bukit Tinggi. Jadi jangan khawatir susah cari oleh-oleh, yang penting adalah : pinter NAWAR!!! Baju kaos 40-50rb, bisa jadi 20rb :P, kacamata KW super 120 rb bs jadi 70rb. Jadi, rajinlah menawar :D

Banyak juga yg memakai kostum dan menawarkan
 foto bersama dengan bayaran sepantasnya (bukan seikhlasnya ya)
Lanjut ke Rumah Kelahiran Bung Hatta. Disini kita bebas liat-liat, foto-foto dan tidak dipungut bayaran, cukup isi buku tamu aja.

Rumah Kelahiran Bung Hatta
Sederhana dan sejuk, mau banget tinggal di rumah kayak gini
Lanjut lagi kita menuju ke Lembah Harau, perjalanan memakan waktu 1 jam-an. Sebelumnya singgah dulu buat beli oleh-oleh di toko ummi Aufa Hakim, dan benar saudara-saudara, harga keripik Sanjay, balado ataupun makanan lain, jauh lebih murah dibanding toko-toko di kota Padang. Memasuki Lembah Harau, pemandangan sungguh emejing emejing. Entah sudah berapa kali saya dan Widi mengucapkan kata bagus banget, indah banget atau enak banget untuk makanan Padang yang sumpah enak banget.hahaha.

Lembah Harau

Persawahan di sekitar Lembah Harau
Selanjutnya kita menuju ke Istana Pagaruyung, istana yang satu ini jangan sampe ga didatangin ya kalau travelling ke SUmbar, karena tempatnya benar-benar bagus dan didalam istananya indah.Di sini lah keberuntungan kami bersinar. Jadi ceritanya istana ini baru selesai dibangun kembali setelah kebakaran dan belum dibuka untuk umum bagian dalamnya. Istana ini baru akan dibuka kembali setelah peresmian oleh Pak SBY entah bulan apa belum tau. But u know what? Kita bisa masuk.hahaha. Kita berdua dikenalkan oleh tukang foto yang disana dengan juru kunci istana, dan kita diperbolehkan masuk bahkan ga dibatasi waktunya. Malah kita yang susah mau mutusin pembicaraan karena si bapak ceritanya asyiiik banget, mulai dari cerita adat budaya Minang, sampe ngasi kita tausiyah masalah jodoh dan rumah tangga. Hehehe. Makasih Bang Novrie (si tukang foto) yang mau-mau aja moto kita dengan pose macem2, nemenin jalan muter2 sampe kita puas, sampe bawain hp saya karena katanya saya teledor XD.


Duo Putri Minang di depan singgasana raja
Cantik ga? hehehe
Ga sangka ketemu jodoh disini
Oh ya, untuk menambah pengetahuan, di dalam istana ini terdiri dari kamar-kamar yaitu Kamar Raja, Kamar Bundo Kanduang (istri raja), kamar putri. Kamar putri disini lumayan banyak, mungkin sejumlah putri yang ada lah ya. Paling kasian ya pangeran, karena anak lelaki di Minang itu tidak disediakan kamar karena mereka tidurnya di masjid/surau/langgar. Nanti setelah menikah barulah dia punya kamar sendiri mengikuti kamar istrinya. Kamar - kamar ini tidak mempunyai pintu, hanya berupa tirai berlapis-lapis (bisa di diliat di foto di atas), di tiap lapisan itu terdapat pengawal atau penjaga. Di depan setiap kamar terdapat ruang tamu terbuka untuk masing- masing penghuni kamar, hal ini bertujuan untuk menghargai setiap penghuni kamar sehingga setiap kamar bisa menyapa atau melayani tamunya masing-masing.

Ruang tamu di depan Kamar Raja
So, inilah Istana Pagaruyung dari luar, so beautiful isnt it
Keluar dari IStana Pagaruyung, hari sudah senja, Pak Wendra sampe bingung kenapa kami bisa begitu lama di dalam. Katanya maksimal 1 jam itu udah rekor kalau cuma buat foto-foto di Pagaruyung. Ketika kami ceritakan bahwa kami foto di dalam, duduk santai-santai dan ngobrol dengan juru kunci istana dia langsung kaget, Seumur-umur dia sering bawa orang ke Istana Pagaruyung, belum pernah ada yang bisa masuk. Wow...!!!That why I said we r so lucky.

Danau Singkarak adalah tujuan kami berikutnya. Danau ini sudah terkenal seantero dunia karena beberapa tahun ini rutin diadakan Tour De Singkarak, acara ini katanya terbesar kedua setelah Tour De France untuk jumlah penontonnya. 

Danau SIngkarak
Danau yang riak airnya seperti laut
Sepulang dari Singkarak karena hari sudah gelap dan jalanan agak macet juga, kami memutuskan langsung kembali ke Bukit Tinggi. Sampai di Bukit Tinggi kami makan di pusat jajanan Bukit Tinggi di Nasi Goreng Ajo, mencicipi Nasi Goreng, roti cane dan sate kambingnya (kalap). Sampe hotel, bukannya tidur, Widong malah ngajak jalan kaki ke Jam Gadang (ini asyikya jalan ama dia, ga kenal capek,hahaha).Malam Minggu di Jam Gadang itu asyik, lebih rame dari siang dan seru, ada yang dangdutan, pacaran dan jualannya macam-macam. Saat yang tepat buat belanja (lagi???,eh)

Day 3
Hari terakhir kami di Bukit Tinggi, pagi langsung ke Lembah Anai yang terletak di dekat hotel. Pemandangannya lagi-lagi Subhanallah. Orang Bukit Tinggi harus banyak bersyukur ni diberkahi pemandangan alam dan kenikmatan kuliner yang luar biasa. 

Pemandangan dari Lembah Anai
Di Lembah Anai ini sebetulnya terdapat Gua Jepang, kita bisa masuk ke gua tersebut untuk melihat peninggalan dari masa penjajahan Jepang tersebut. Waktu yang terbatas demi mengejar pesawat pulang membuat kita tidak melakukan hal tsb. Tak apa-apa tak masuk ke sana, yang penting jangan lewatkan Itiak Lado Hijau di dekat pintu keluar Gua Jepang tsb. Resto ini sudah pernah didatangi oleh Pak Bondan, maknyusss intinya. Saking maknyusnya kita sampe bungkus untuk dibawa pulang ke Jakarta. Bebek yang dimasak dengan cabe hijau ini rasa pedas dan bumbu-bumbunya pas semuanya apalagi dimakan dengan nasi putih hangat dengan bawang goreng yang banyak. Luar biasaaa nagih.

Setelah makan, lanjut lagi ke Danau Maninjau, danau ini bisa di lihat dari Kelok 44 jadi sambil menyelam minum air danau lah, eh. :D.  Danau ini kebalikan dari Danau Singkarak, airnya tenang, mirip dengan Danau Toba tapi tanpa Pulau Samosirnya :). Selain dari Kelok 44,43,dst, Danau ini juga indah dilihat dari Puncak Lawang. Di Puncak Lawang juga terdapat resort dan pusat kegiatan outbond dan paralayang. Pada saat kami datang kesini banyak turis-turis asing yang sedang mengikuti acara outbond dan trekking dari puncak ke danau. Hikss...sayang kami ga punya waktu banyak :(

Danau Maninjau dari Puncak Lawang
Cantiknya ga kuku
Danau Maninjau dari Kelok 43
Saatnya pulang ke Padang. Dalam perjalanan pulang ke Padang, kami singgah ke Rumah Puisi. Rumah yang dibuat untuk menghormati Bpk Taufik Ismail yang puisinya selalu bikin saya "sesuatu". Di dalam rumah ini terdapat koleksi  buku serta puisi-puisi yang di pajang di dindingnya, terdapat juga quote-quote terkenal yang terkait dengan buku dan sastra. 

Rumah Puisi
Masih ingat puisi ini? Dulu waktu SD wajib hafal puisi ini :D
Persinggahan terakhir kami sebelum ke bandara adalah Sate Mak Syukur (SMS), sate daging sapi khas Padang yang kata orang-orang enak pake banget. Jadi singgahlah kita kesitu untuk mencicip sate terkenal ini. Kalau kata saya sih, masih enakan sate Padang langganan saya di  Prabumulih,hehehe. Itu masalah selera saja.

Kesimpulan :
1. Kalau mau jalan-jalan ke SumBar, sekeluarga lebih asyik atau rame-rame sejumlah kursi di mobil lah, jadi itungannya jadi murah. Bawa anak-anak atau orangtua juga ok karena tujuan wisatanya bukan wisata berat, kecuali ke pulau lah ya yang agak ribet.
2. Kalau bisa waktunya agak lama,minimal 3 hari full supaya puas. Travelling kita yang 3 hari ga full masih terasa kurang karena masih ada beberapat tempat yang kita skip untuk mengejar waktu.
3. Saya appreciate sekali dengan integrasi pemerintah Sumbar dan warganya dalam membangun pariwisata. Saat kita travelling saja mendapat cerita tentang pembangunan yang masih berlanjut untuk meningkatkan pariwisatanya. Setiap tempat fasilitasnya sudah baik, toiletnya bersih, di setiap masjid mukenanya ada, dan paling utama orangnya ramah-ramah. Banyak sekali info dan bantuan yang kami dapat selama travelling :). 
4. Yang pasti jangan ragu mencicip kuliner Sumatra Barat, maknyusss. Yang namanya nasi padang, lebih enak tuh dari Resto Sederhana yang tersebar di seluruh Indonesia.heuheu. 
Sekian

Salam dari Putri Pariwisata Minang :P

Map of My Trips

Copyright 2009 thiernaphilo. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates