RSS
Tampilkan postingan dengan label it’s me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label it’s me. Tampilkan semua postingan

Pilih Mana


Minggu lalu saya tugas ke luar kota, tepatnya ke Medan. Karena merasa sudah biasa banget sama kota ini, sy tidak meminta jemputan kantor. Saya sudah merencanakan akan menggunakan kereta saja dari Kuala Namu ke Medan. Kebodohan saya adalah saya lupa mengecek jadwal kereta, jadi ketika sampai di Kuala Namu sy santai-santai saja singgah ke Alfamart belanja cemilan yg saya bayangkan enak sekali ni dimakan di kereta, lalu lanjut ke kamar mandi. Begitu sampai di tempat pembelian tiket, kereta baru saja berangkat. Itu adalah kebodohan yg paling nyata (pengen nangis karena kalau saja sy langsung ke stasiun tanpa singgah-singgah, sy sudah berada dalam kereta menuju Medan 😭). Kereta berikutnya masih 1 jam lagi dan saya benci menunggu!!! Time is priceless. Orang jalannya lambat aja sy Bete. Mau naik “taksi” (sebenarnya mobil pribadi yg dijadikan kayak travel) saya kurang sreg karena sudah malam, memikirkan nantinya sy sendirian cuma sama supirnya melewati jalan Kuala Namu - Medan. Akhirnya setelah nanya apa ada bus umum, ternyata ada Damri ke Medan, oh mak, kemana aja saya selama ini, naik Damri lah kita (Im a Damri Supporter di Jkt 😬), and fyi, ongkosnya hanya 20rb saja dari Kuala Namu ke Medan. Wow.. super. 

Sebetulnya inti cerita yg mau saya tulis mah di ketika saya berada di dalam Damri , yang diatas hanyalah epilog panjang saja, hehe.Damri ini tujuan akhirnya Carefour Medan, karena sy sudah sering kesana PD aja lah nanti dr situ naik taksi ke hotel, tp buat memastikan jalur saya nanya lah ke seorang ibu yang duduknya di depan saya. Berawal cuma ngobrol nanya jalan, akhirnya si ibu pindah ke kursi di sebelah saya, ngobrol ngalor ngidul  deh kita.

Tibalah pada saat topik saya melihat foto calon Walikota atau Gub Medan saya lupa , saya bilang ke ibu itu "Satu ni bu yang khas dari Medan, foto/gambar anggota dewan atau calon pemimpin bertebaran dimana-mana. Saya ingat dulu terakhir ke Medan, foto Pak Gubernur sebagai calon tersebar kemana-mana, saya sempat kefikiran Bapak ini manis yaa, eh sekarang berakhir di KPK"

Jawaban si ibu : "Iya mbak, kita mah ya dari awal juga tau kalau di itu korupsi. Cuma calon satunya kristen. Jadi yah lebih baik kita pilih aja dia, ga da pilihan lain, biarpun kelakuannya kayak gitu yang penting Islam"

WHAT?!!!!! Sumpah sy gemes pengen teriak DAMN depan ibu itu. Tapi kenyataannya saya hanya bisa ketawa canggung.  Bayangkan, mereka sudah tau tuh bapak emang koruptor, tetap aja dipilih. Antara bego atau naif saya ga tau lagi deh. Kalau kayak gitu ya jangan protes kalau duit rakyat dirampok ama mereka, karena lo rela!!! lo yang milih T___T.

Pembicaraan itu membuat saya teringat kembali Pilkada DKI, ibu itu hanyalah 1 sample dari 58% masyarakat ibukota yang memilih. Yah mungkin ga semuanya begitu, tapi saya rasanya prinsip yang penting ISLAM itu sangat-sangat powerful buat kemenangan mereka ..hehehe (ketawa pahit).  Saya sebetulnya ga suka menulis masalah politik di blog, menyuarakannya aja malas, karena sekarang bisa dilabeli KAFIR atau LIBERAL, bahkan oleh teman sendiri. Tetapi, tadi malam saya melihat video bpk Gubernur yang baru bersender di gerobak sampah manggil2 orang dg gaya nya yang menurut saya Bossy (menurut saya lho ya) sama videonya di warung makan, yang bikin saya teringat lagi malam di Damri itu dan pengen menuliskannya serta ehem,, pengen bilang..Selamat ya warga DKI.

Review: A Very Yuppy Wedding


A Very Yuppy Wedding A Very Yuppy Wedding by Ika Natassa
My rating: 2 of 5 stars

Buku Ika Natassa yang pertama saya baca adalah Critical Eleven, dan bukunya benar-benar terhubung dengan pembaca menurut saya. Saya saja sampe nangis bombay bacanya. Setelah itu saya baru tau ada Poll Story "The Architecture Of Love" dari teman saya dan finally baca poll story dan novelnya. Baru dari situlah saya baru baca lihat-lihat dan tertarik untuk membaca buku-bukunya Kak Ika. Padahal sebelumnya sudah pernah disuruh-suruh dari zaman kapan ya sama teman saya baca Divortiare dan Twivortiare. Tapi memang karena saya tipenya baca buku apa harus mood dulu, jadi ga bisa dipaksakan harus baca buku judul yang spesifik di saat itu juga.

Balik ke A Very Yuppy Wedding, menurut saya yang kebalik baca buku barunya dulu baru baca buku pertamanya Kak Ika, ya pasti terasa jomplang. Jauh banget feelnya, ya wajarlah ya buku pertama gitu lho. Buku tentang pasangan bankir yang sibuknya super luar biasa, yang pada akhirnya menikah dengan diwarnai konflik-konflik pacaran dan hubungan pra nikah tentunya. Di buku ini saya ga dapat koneksi dengan ceritanya, jadi faham ceritanya tapi ga dapat feelnya. Sampai akhirpun biasa saja hanya seperti baca cerpen atau novel metropop pada umumnya. No traces left in my heart. Mungkin buku ini bukan buat saya.

Last but not least, sebetulnya hal ini menunjukkan kalau kemampuan Kak Ika menulis benar-benar berkembang luar biasa dan tentu saja dengan strategi pemasaran yang out of the box sehingga kita bisa lihat keberhasilannya dalam penjualannya di buku-buku berikutnya. Btw, saya punya semua kok bukunya dan join group RH nya, jadi review ini jujur dari saya :D

View all my reviews

Map of My Trips

Copyright 2009 thiernaphilo. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates